Minggu, 19 Juli 2009

BIDADARI KERTAS

CP-2009 (A-6
Start : 02/06/2009 14:15:05
Final : 03/06/2009 11:12:37


BIDADARI KERTAS....


Irma menyesap kopinya pelan-pelan. Menikmati tetes demi tetes minuman pahit itu meluncur ke tenggorokannya. Ia memang punya kebiasaan minum secangkir kopi pahit di pagi hari. Dan sekerat roti tawar tanpa isi.

Di hadapannya duduk Ferry. Yang sedang asyik membaca koran pagi.

“Jadi berangkat hari ini, say ?” suara Ferry yang berat memecah kesunyian. Irma menoleh. Tersenyum. Dia selalu ingin tersenyum bila Ferry menyebutnya dengan panggilan ‘say’. Seperti anak muda. Agak norak, menurut Irma, tapi dia suka. Karena Ferry menyebutnya dengan nada yang tidak biasa.

“Ya, iyalah...acaranya sudah dari kemaren malam. Aku sudah kehilangan waktu satu hari.”
“Hmm...iya sih. Tapi nggak apa-apa, kan ?” Ferry mengangkat wajahnya, dan melemparkan senyum jahil. Matanya berkilauan.

“Huuuh...nggak apa-apa bagaimana ? Aku kan mesti bikin laporan. Kalau aku di sini terus...kapan aku bisa bikin laporannya ?”
“Kalau kamu di sini terus...ya, aku dekap terus...hehehehe....” Ferry melemparkan tatapan menggoda.

“Nggak aaaah...ntar nggak selesai-selesai...,”Irma beranjak bangun. Bergegas membenahi cangkir kopi dan piring-piring yang masih ada di atas meja. Lalu ia melenggang ke dapur sambil menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki itu. Ferry melompat, melemparkan koran yang dibacanya.
“Tapi kamu suka kan ? Seperti ini ?” Ferry mengecup belakang telinga Irma.

“Feeeeerrr....ini sudah jam berapa ?” Irma mendelik. Pura-pura marah.
“Jamku mati....,”Ferry berkata cuek. Memeluk wanita itu dari belakang.

*

Irma menatap arlojinya. 

Sudah jam dua belas. Ia baru saja memasuki ruang seminar. Mencari tempat duduk sesuai dengan arahan dari panitia penyelenggara. Seharusnya ia datang sejak pembukaan acara tadi malam. Tapi Ferry berhasil membujuknya untuk menginap lagi. Di rumah mungil tempat mereka selalu bertemu selama ini. Rumah, yang tanpa sengaja mereka temukan diantara deretan rumah-rumah sebuah kompleks pemukiman yang asri.

Dan disitulah mereka bertemu secara rutin, hampir setiap minggu. Atau ketika ada kesempatan, seperti saat ini. Irma tersenyum. Hidupnya nyaris tenggelam, sebelum ia mengenal Ferry. Laki-laki itu, dengan segala kesederhanaan sikapnya, telah merubah hidup Irma. Dalam beberapa bulan. Ia merubah Irma, yang semula sudah tidak memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupannya, menjadi bergairah kembali.

“Kamu masih suka mengenang masa lalu ? Itu bagus. Tapi apa kamu mau tinggal di masa silam ?” Begitu Ferry menyentilnya beberapa bulan lalu. Saat ia sedang mengurus klaim asuransi atas nama Adrian, suaminya. Sebetulnya Ferry ingin bersikap profesional, tapi melihat wajah Irma dan tatapannya yang nanar, hatinya langsung meleleh. Ada sesuatu di dalam diri wanita itu, yang membuatnya ingin meraih dan merengkuhnya. Duuuh...

Irma terduduk pasrah di depan Ferry. Mencermati satu demi satu kata-kata yang diucapkan Ferry dengan nada yang hangat dan simpatik. Berbeda dengan orang lain, Ferry tidak menyalahkan sikap Irma yang terpuruk, sejak ditinggalkan oleh Adrian. Dia hanya mengungkapkan fakta. Kenyataan. Yang membuat Irma berpikir ulang tentang kehidupannya.

“Yaaah...aku tahu. Tapi aku tidak tahu, harus bagaimana memulai langkah lagi.” Irma menatap nanar. Dia memang tidak bisa berpikir jernih. Kepergian Adrian yang mendadak di dalam tugasnya, membuat Irma merasa dunia seperti runtuh seketika.

“Gampaaaaaanggg....angkat kaki kamu...angkat kepala kamu...ya mulai jalan...” Ferry tersenyum sambil menatap tajam ke arah Irma.
“Kamu bilang gampang...gampang...apanya yang gampang ???” Irma nyaris berteriak. Sengit. “Apa-apaan orang ini ?” pikirnya dengan marah. “Dia belum mengenal aku, tapi berani-beraninya dia bilang begitu.”

“Hmmm...sabar Cantik. Jangan marah-marah dulu. Eeeh...marah juga tidak apa-apa. Kemarahan itu perlu untuk membangkitkan energimu. Ayoooo...marah lagi... Pleaaseeee....”

“Ferrrrrr....aku tidak bercanda. Aku serius niiih...!!!”Irma ingin meledak. Ia belum pernah bertemu dengan orang seaneh ini. Ia juga kaget, Ferry menyebutnya ‘Cantik’. Padahal di usia menjelang kepala empat ini, Irma merasa seperti seorang wanita tua yang jelek dan cerewet.

“Yaaa...serius...Ayoooo...marah...Semakin marah, kamu semakin bersemangat. Dan semakin galak... kamu jadi semakin cantik...” Ferry tertawa kecil. Memperhatikan wajah Irma yang sudah merah padam.

“Feeeerrrr....kamu keterlaluan....!!!” Irma benar-benar meledak sekarang. Dia bangkit. Mendekati Ferry. Dengan wajah yang nyaris terbakar karena emosi yang bangkit.

Ferry tidak tinggal diam. Dia membuka kedua lengannya selebar-lebarnya...dan membiarkan wanita itu menubruknya. Dalam sekejap Irma tenggelam di dalam pelukan Ferry. Menangis dan marah di dalam satu nada. Menangis kesal. Takut. Marah. Semua emosi yang terhimpit selama berbulan-bulan. Larut dalam dekapan kuat Ferry. Lalu pelan-pelan...Ferry mengelus punggung Irma...membelai lembut rambutnya yang sekarang sudah tumbuh lebih panjang dan menyentuh bahunya yang terguncang-guncang. 

Dan itu adalah awal segalanya. Sesuatu yang baru. Untuk Irma. Dan Ferry.

*

Irma menghela nafas panjang. 

Konsentrasinya nyaris buyar. Dia hampir tidak dapat mengikuti jalannya seminar dengan baik. Padahal dia diminta oleh perusahaannya untuk membuat laporan mengenai perkembangan bisnis Asia di masa krisis. Ia hanya menggigit-gigit bolpoinnya. Mendengarkan pembicara di depan forum menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat. Tapi Irma hanya mendengar sepotong-sepotong, seperti lagu yang salah komposisi. “Jangankan krisis di Asia, krisis di dalam kehidupanku saja belum terselesaikan,” bisiknya dengan dada yang agak nyeri.

Pikirannya melayang kesana kemari. Ke saat-saat pertemuan pertama dengan Ferry. Ke saat-saat dia kehilangan Adrian, suami yang pernah sangat dicintainya. Bahkan sampai hari ini pun, ia masih mencintai Adrian. Rasanya belum lama ia jalan bersama Adrian. Mengisi banyak tahun yang penuh dengan dinamika. Tapi karena tugasnya yang tidak menentu di berbagai daerah, menyebabkan mereka sering tidak dapat bertemu. Tugasnya yang terakhir ke pedalaman Kalimantan telah memisahkan mereka. Pesawat kecil yang ditumpangi Adrian jatuh. Dan hilang.

Irma merasa goyah. Ia sudah biasa hidup sendiri sebelumnya. Ia sudah biasa menjalani hari-harinya dengan peran ganda sebagai ibu dan ayah bagi anak semata wayang mereka, Sandra. Tapi tetap ada Adrian untuk berbagi masalah. Tetap ada Adrian yang menghangatkan malam-malam mereka, bila laki-laki itu pulang dari penugasannya.

Sekarang ia benar-benar harus sendirian. Berjalan gamang di tengah gelombang kehidupan.

Benar, pernah ada teman-teman dan sahabat yang datang mengucapkan simpati. Selalu ada saudara yang siap didatangi untuk bersilaturahmi. Tapi ketika hatinya menjerit, ketika ia didera kesepian yang sangat, dia tidak memiliki siapa-siapa.

Sampai Ferry menyentuh rambutnya. Membiarkan ia menangis di bahunya yang bidang. Mengecup bibirnya. Membasahi hatinya. Tapi....Ferry bukan miliknya.

*

“Say....melamun lagi,” Suara Ferry menyentak lamunannya. 
“Kok tahu aku melamun ?” Irma mendesah manja. Setengah berbisik.
“Suara kamu mendadak hilang,” sahut Ferry dari seberang sana. ”Pasti bukan karena sinyal yang ngedrop khan ?”
“Bukaaaan...aku lagi melihat-lihat niiih...”
“Lihat-lihat apa ? Awas saja kalau kamu berani lihat-lihat yang lebih keren dari aku.” Ferry pura-pura mengancam.

“Yang lebih keren sih banyaaaaaaakkkk.... tuuuuh ...satu... dua... tiga... adduuuh...ada setengah lusin...hihihi...” Irma bercanda sambil mengekspresikan suaranya seakan-akan melihat sesuatu yang menarik.

“Huuuuuh...jangan tertipu dengan penampilan...Banyak yang keren...tapi nggak ada yang seperti aku kan ?” Ferry mengajuk lagi. Irma, tanpa sadar, mengangguk. 

Uuuuh...padahal mana laki-laki itu tahu kalau dia mengangguk. Tapi di dalam hatinya, Irma memang mengakui, belum ada laki-laki seperti Ferry. Paling tidak, yang pernah mengisi hatinya seperti saat ini. Tidak ada yang sabar dan lucu sekaligus, seperti Ferry. Yang membuat ia menjadi bersemangat setiap hari. Bahkan ketika jarak dan waktu memisahkan mereka. Ferry masih selalu mengingatkan dia.

“Kok diam aja, say...?” Suara Ferry memecah lamunan Irma. Dia memang banyak melamun akhir-akhir ini. Ketika mereka tidak bisa bertemu sesering dulu lagi.

“Nggak...Cuma kangen saja...” suara Irma melemah. Ia memang sangat merindukan laki-laki itu. Tak sekedar merindukan sentuhannya. Tapi ia ingin memiliki Ferry untuk dirinya sendiri. Tidak berbagi, seperti sekarang. Berbagi dengan kehidupan Ferry yang lain.

“Sama say...aku juga kangen. Kapan ya bisa ketemu kamu ?”
“Aaaah...kayaknya masih lama deeeh. Kamu masih keliling ke daerah juga kan?”
“Iya...namanya tugas. Cari makan...Kamu tahu kan say ?”
“Iiiiiihhh...say melulu....”
“Lhaaa...kan kamu memang say-ku....Norak ya ? hahaha....”Ferry tertawa di ujung telepon. Suaranya bergema. Jauh masuk ke relung-relung hati Irma. Ia merasa ada sesuatu yang menggigit di sana.

“Biar ajalah norak...asalkan aku bener-bener say-mu...hehehe...”Irma ketularan geli mendengar kata-kata dan nada bicara Ferry yang terkadang memang unik.

“Ya sudah....kamu hati-hati aja kerjanya. Aku usahakan bisa pulang minggu depan. Aku udah kangeeeen banget sama kamu.”
“Sama....”
“Yaaa sudah....dadaaah...”
“Dadaaaaah....”

*

Irma melangkah pelan. Menyusuri toko demi toko di pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota . Menghabiskan sisa sore dalam kesendirian. Kadang ia memang kemari untuk melepaskan kejenuhannya. Melamun sendirian di tengah keramaian. Dan kali ini, melayangkan lamunannya kepada Ferry, yang entah berada di mana saat ini.

Sudah lebih satu bulan ia tidak bertemu Ferry. Tugas mereka memang tidak memungkinkan pertemuan setiap waktu. Belum lagi kewajiban yang harus mereka jalani di dalam kehidupan masing-masing. Dia dengan kehidupannya bersama Sandra. Dengan pekerjaan rutinnya. Dan Ferry, yang masih menjadi misteri baginya, dengan kehidupannya di luar sana.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku ,” begitu Ferry pernah membisikkan kata-kata itu kepadanya, di saat yang lalu . “Yang penting, pada saat kamu butuh , aku ada di sisi kamu.”
“Iya siiih...aku hanya penasaran...” ajuk Irma.
“Kadang hidup perlu misteri. Supaya kamu selalu penasaran.”
“Hmm....tapi kamu sayang sama aku kan ?”
“Dijamin...kamu sayangku, say...hehehe...”
“Hahaha....noraaaaak....!”

Mereka hanya bisa bertemu sesekali. Itupun cuma sebentar. Bila ada waktu, kadang Irma menyempatkan datang ke rumah mungil tempat mereka biasa bertemu. Rumah yang mereka kontrak bersama untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Rumah, tempat mereka bisa melepaskan lelah dan terlepas dari himpitan kehidupan yang bergulir cepat. Rumah, dimana mereka menjadi diri masing-masing. Mereka adalah Irma, seorang wanita yang kini harus hidup sendirian. Dan Ferry, seorang laki-laki yang mencintai Irma saat ini.

Di rumah itu, mereka bisa berbagi cerita. Berbagi impian. Berbagi semangat. Bahkan berbagi sepiring nasi goreng yang dimasak di dapur mungil mereka. Yang biasanya ditutup dengan secangkir kopi pahit untuk Irma, dan secangkir teh manis hangat untuk Ferry.

Saat ini Irma hanya sendirian. Dia ingin melepaskan ketergantungannya pada Ferry. Tapi setelah sebulan ini merenung, ternyata ia masih tidak dapat membiarkan Ferry pergi dari kehidupannya. Ferry seperti sebuah misteri baginya. Seperti dia pun masih menjadi misteri bagi laki-laki itu.
 
*

Irma menghabiskan sisa sorenya di sebuah kafe di sudut pusat perbelanjaan itu . Memesan secangkir kopi, dan sepotong kue kecil untuk pengiring kopi kesukaannya. Ia membuka buku catatannya. Sebuah ornamen, berbentuk bidadari dari kertas terjatuh dari dalamnya. Irma tersentak.

Itu adalah bidadari kertas yang mereka beli bersama-sama, beberapa waktu lalu. Bidadari kertas untuk hiasan di rumah mungil mereka. Tak sekedar sebagai hiasan, tapi juga sebagai simbol hubungan mereka yang absurd. Seperti kata Irma suatu ketika, “ Bidadari itu adanya di dunia imajinasi. Kita menjadikannya seperti ada, membuatnya dari kertas, supaya kita bisa menyentuhnya ”. 

Irma menghela nafas dalam. Ia berbisik di dalam hati, seakan berbicara kepada Ferry, yang entah dimana. “ Sama seperti imajinasi kita, yang kita inginkan dia ada. Lalu kita membuat bidadari kertas di dalam setiap interaksi kita...Supaya kamu merasa bisa menyentuh aku...supaya aku bisa menyentuh kamu...Bidadari yang sesungguhnya kan hanya misteri...tapi bidadari kertas bisa kita lihat setiap saat, setiap waktu...seakan rohnya juga ada di situ...”

Pelan-pelan...ia menyesap kopinya. Menatap sisa-sisa bubuk kopi yang tertinggal di dasar cangkir. Seakan-akan ingin menerawang hari esoknya. Tapi dia tahu...hari esoknya masih merupakan misteri...seperti perjalanan hidupnya yang terus bergulir...dengan Ferry, ataupun tanpa laki-laki yang sekarang mengisi hidupnya itu.


♥♥♥


Jakarta, 3 Juni 2009



Ietje S. Guntur

Special note :
Buat sahabat-sahabatku yang misterius forever...Fred, Ryan, Jeff, Mury, Haaar...Hidup ini memang lucuu yaaa....hehehe....Thanks buat inspirasi sepanjang jalan...

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda