Rabu, 26 Desember 2007

Art-Cerpen 2006 (H-10 Seandainya....

Art-CP 2006 (H-10

Start : Minggu, 10/8/2006 10:41:38 AM

SEANDAINYA….

Pagi di kantor Baskoro.

Dengan perasaan tidak sabar ia menyalakan komputernya. Lalu mencari jalur internet. Triiit ! Dapat. Buka ‘inbox mail’. Cepat tangannya memainkan mouse, menelusuri nama-nama yang masuk. Hh…itu dia. Segera ia menekan tombol mouse. Klik ! Di layar komputer tampak sehalaman email dari seseorang.

*

: Dewi.Fajar@gmail.com

Baskoro@yahoo.com

Haloooow Dewa Langit….

Met pagiiiii….Sudah melek lagi hari ini ? Pasti sudah duduk manis di depan komputer ? Gitu dong, mesti rajin kalau hari Senin. Sudah sarapan apa belum ? Ayo sarapan dulu. Ntar masuk angin lagi…Kalau pagi-pagi begini sudah masuk angin kan bikin repot orang sedunia…hehehe…

Oke ya…met kerja…semoga sukses…and…jangan nakal-nakal…jangan manjat-manjat tembok…jangan demo sembarangan…hihihi…

Have a nice day….

Dewi Fajar yang rajin banget…

*

Hari yang lain .

: Dewi.Fajar@gmail.com

Baskoro@yahoo.com

Hai Pirates....

Lagi ngapain ? Masih menjadi perompak atau sudah duduk di depan komputer ? Harusnya pagi begini sudah segar lagi, ya ? Apalagi kalau weekend kan biasanya lebih segar dari biasanya. Ada rencana apa liburan besok ? Ke luar kota or mau melungker di kasur saja seperti siluman ular ?

Aku besok malah ada pertemuan dengan teman-temanku dari Jogya. Mumpung ada waktu, jadi pada ngumpul semua untuk evaluasi program . Aku sih senang-senang saja, soalnya kalau sudah ngumpul pasti banyak cerita yang seru-seru. Mau diceritain nggak? Tapi janji dulu...dilarang merem. Apalagi merem melek. Itu namanya nggak sopan sama orangtua.

Oke ya...aku mau beresin kerjaan hari ini. Ntar siang ada yang ngajakin lunch. Ditraktir sekali-sekali enak juga sih...hehehe...(ini pernyataan...bukan pertanyaan ! Dan bukan nyindir loooooh....)

Have a nice weekend...

DF-yang mau ditraktir...

*

Baskoro tersenyum. Belakangan ini ia jadi rajin membuka email setiap pagi. Berharap ada email masuk. Entah sekedar ucapan selamat pagi. Entah sekedar kiriman jokes yang lucu-lucu, entah sekedar informasi jalan tol yang semakin macet, dan kadang ada kiriman tantra totem berupa kata-kata bijak yang sangat mengena dengan situasi yang dihadapinya.

Mula-mula ia hanya sekedar membacanya, kalau sempat. Tapi sekarang, ia selalu menunggu sesuatu yang dikirim oleh Sang Dewi Fajar itu. Selalu ada yang baru. Selalu ada yang menggelitik. Dan yang jelas, selalu membuatnya lebih bersemangat.

Ia tidak tahu kenapa ia jadi tergantung pada email kiriman Sang Dewi Fajar itu. Entah bagaimana, ia tahu suasana hatiku, pikir Baskoro dengan heran. Ketika aku murung, tiba-tiba ia mengirimkan email mengenai renungan hidup. Ketika perasaanku tertekan, ia mengirimkan email mengenai persahabatan. Dan ketika aku malas bekerja karena moodku sedang drop, ia mengirimkan email yang jenaka dengan komentar yang lucu-lucu. Aah….

*

Sebetulnya belum lama ia mengenal Sang Dewi Fajar. Tentu saja ini hanya nama di dunia maya. Dunia virtual yang tak kasat mata. Mereka berkenalan di sebuah seminar. Ia masih ingat, ketika itu Sang Dewi sedang celingukan mencari tempat duduk, dan ia menawarkan tempat duduk di sebelahnya yang kebetulan kosong.

Begitulah. Mereka ngobrol sebentar di sela-sela pembicaraan presenter yang ada di depan. Entah bagaimana, Baskoro merasa cocok berbincang dengannya. Dan seperti lazimnya, mereka bertukar kartu nama. Baskoro melirik selintas. Ternyata profesi mereka sama. Klop. Aku bisa bertukar pikiran dengannya, pikir Baskoro dengan yakin.

Amelia, begitu nama Sang Dewi Fajar, pulang lebih cepat dari jadwal seminar. “Aku ada janji dengan seorang teman “, katanya ketika akan pamitan. Tampaknya ia orang yang memiliki segudang kesibukan, duga Baskoro. Dugaannya ternyata benar. Wanita bertubuh mungil itu memiliki berbagai kesibukan, yang tentunya menguras seluruh waktu dan energinya.

“Ah…tidak. Aku hanya menjalankan hobiku saja. Kebetulan hobiku itu banyak, jadi kelihatannya kegiatanku juga bermacam-macam. Percaya deh…aku lebih banyak bersantai daripada bekerja.” Begitu kilah Amelia ketika Baskoro mencoba menjajagi lebih lanjut mengenai aktivitasnya.

“Kapan kita bisa ngobrol lagi nih ?” pancing Baskoro, menyembunyikan rasa antusiasnya. Ia harus berhati-hati, tidak semua wanita seperti Amelia mudah didekati.

“Nanti aku kirim email saja. Kalau telepon kuatir sedang sibuk.” Amelia menjawab lembut. Diplomatis. Ia tidak menolak. Juga tidak menerima begitu saja. Email, sarana yang relative aman. Mereka bisa berkomunikasi kapan saja, tanpa harus bertatap muka. Padahal, aku ingin berbincang langsung dengannya, batin Baskoro.

“Oke. Aku tunggu, ya .” Baskoro penuh harap. Aneh juga, kenapa bukan aku yang berinisiatif mengirim email ke dia, pikirnya geli. Tapi kalau dia menanggapinya lain, atau dia menolaknya, kan aku yang malu. Atau gengsi ?

Begitulah. Tidak ada kabarnya lagi. Baskoro mengira Amelia sudah lupa. Tiba-tiba suatu pagi Baskoro menerima emailnya, dengan inisial Dewi Fajar. Ia sempat terheran-heran, karena nama itu tidak pernah ada di dalam daftar alamat emailnya. Hampir saja email itu dibuangnya, kalau ia tidak teliti membacanya. Jauh di bawah sana, ada nama Amelia. Huuuh…hampir saja, bisiknya lega.

Sejak itu, ia dan Amelia saling berkirim kabar melalui email. Paling tidak sehari sekali. Dan tampaknya Amelia, atau ia lebih suka dengan nama Dewi Fajar, hampir selalu membuka harinya dengan sepotong email di pagi hari atau selambat-lambatnya siang hari setelah usai jam makan . Dan itulah yang selalu ditunggunya hingga hari ini.

*

Hingga suatu hari. Tidak ada satu email pun. Sepanjang hari. Dan hari berikutnya. Ia merasa sangat gelisah. Tidak biasanya Sang Dewi Fajar tidak memberi kabar. Dicobanya untuk meredam perasaannya, tapi yang terjadi malahan kekacauan pikiran. Ia menyesali, mengapa ia tidak pernah menanyakan nomor ponsel wanita itu. Hanya ada kartu nama, dengan nomor telepon perusahaan. Dan sialnya, ketika ia mencoba menanyakan kepada rekan kerja Amelia di perusahaan itu, tidak ada seorang pun yang mau memberikan nomor ponselnya. Ternyata dia sangat dilindungi oleh teman-temannya, pikir Baskoro dengan penuh sesal.

Sore itu sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.

<>Salam. DF>

Hati Baskoro seketika lega. Ia segera merespons sms itu. < st="on">lisah tidak ada email. Aku ingin menghubungi. Tapi tadi orang kantormu tidak mau memberikan nomor ponselmu. Ternyata kamu orang penting, ya ? Ada situasi gawat darurat apa ? Take care ya . Aku menunggu kamu.>

Bip. Sms masuk. Hanya sedikit repot.>.

Baskoro mengirim lagi. <>

Bip. Berlanjut. <>

Baskoro tersenyum. Kok seperti sms tentara, pikirnya geli. Ia menekan tombol kirim . .

Bip. Masuk lagi. <>.

Hati Baskoro berdebar-debar. Ia membayangkan tubuh mungil itu. Bergerak lincah ke sana ke mari. Lalu ketika ia sudah bosan bergerak, tubuh itu akan diam di dalam pelukannya. Hh…ngawur , pikirnya. Ia pasti tidak sendiri lagi. Ia pasti sudah terikat dengan seseorang.

Hati-hati Baskoro mengirim satu pesan lagi. <>

Lama dalam keheningan. Baskoro gelisah. Mungkin aku salah interpretasi, pikirnya panik. Ia nyaris minta maaf ketika ponselnya bergetar pelan. Ada nada panggil. Ohh…ternyata dia !

“Hai…halo…”, sebuah suara yang lembut menyapanya. Hati Baskoro seperti meleleh.

“Halo juga…,” akhirnya ia bisa menjawab. Kok aku jadi grogi begini, pikirnya dengan perasaan tidak menentu. Aku seperti ABG yang sedang menunggu pujaan hati, pikirnya lagi dengan perasaan geli.

“Lagi ngapain ?”

“Nggak ngapa-ngapain. Nungguin kabar dari kamu.”

“Kok nggak nelepon aja ?”

“Kuatir kamu sibuk.”

“Mmh…iya sih. Tapi aku masih punya waktu kok.”

Buat aku ? Bisik Baskoro, tapi hanya dalam hati. Ia tidak mau menunjukkan semangat yang berlebihan. Ia merasa bahwa Amelia bukan tipe wanita yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia harus tenang dan tidak gegabah. Entah mengapa, wanita itu bisa membuatnya mengendalikan sisi-sisi gegabah dari dirinya.

“Yaah…yang penting jangan terlalu cape. Kamu harus bisa jaga badan juga. Gimana situasinya ?”

“Baik. Mudah-mudahan besok aku sudah bisa pulang ke Jakarta.”

“Syukur deh. Jadi mau dipijet ?” Baskoro mencoba menggoda. Hening lagi. Baskoro merasa salah ucap.

“Seandainya saja bisa….,” suara Amelia terdengar mengambang. Hati Baskoro bertanya-tanya. Seandainya…Apa maksudnya ?

“Kenapa tidak ? Kamu sibuk sekali ?” dengan polos Baskoro bertanya.

“Tidak juga sih. Tapi kamu tahu sendirilah…,”kembali suara Amelia mengambang.

“Maksudnya…?”

“Ahh…enggak. Nggak apa-apa…Nanti saja aku ceritakan di Jakarta, ya ?”

“Oke…nggak apa-apa. Aku siap mendengarkan …” walau agak kecewa, Baskoro terpaksa mengiyakan. Lagi pula apa haknya memaksa Amelia untuk menceritakan semuanya. Mungkin dia punya masalah pribadi . Mungkin dia memang belum ingin menceritakan masalahnya.

“Makasih, Mas. Nggak apa-apa nanti saja ya ? Sorry banget. Udah dulu, ya. Aku mau diskusi dulu nih sama teman-teman. Bye !”

“Bye…met tugas ya. Take care…”.

Baskoro menatap ponselnya dengan tidak percaya. Dia memanggilku dengan sebutan seperti itu dan nada yang begitu lembut ? Astaga…waah, aku mulai norak nih. Apa salahnya dia memanggilku Mas, walaupun mungkin dia lebih senior dari aku ? Daripada dia memanggilku ‘bapak’…aduuuh..rasanya aku jadi tua banget. Oke nggak apa-apa…dia boleh menyebutku apa saja. Kadang dia bilang aku Dewa Langit. Kadang dia bilang aku Pirates. Terserah deh. Yang penting dia masih mau menghubungi aku.

*

Di Yogyakarta. Gempa di akhir Mei tahun itu memporak-porandakan proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan tempat Amelia bekerja. Ia harus segera terjun ke lapangan, memeriksa proyek dan seluruh tenaga kerja yang terlibat di sana. Sejak kedatangannya, siang malam ia harus melakukan kordinasi dengan berbagai pihak. Ia merasa panik, cemas dan lelah menjadi satu . Rasanya seluruh emosinya teraduk-aduk, tapi ia tidak boleh menunjukkan hal itu di depan rekan-rekannya. Ia harus tegar, dan harus mengambil sikap yang luwes. Semua kesibukan itu membuatnya melupakan berbagai hal. Ia pun sempat melupakan segala ritual paginya.

Amelia tersenyum. Ritual pagi ? Entah sudah berapa lama ia jadi sibuk berasyik-asyik dengan emailnya setiap pagi. Padahal dulu, ia hanya mengirim email untuk pekerjaannya. Hanya sesekali ia memanfaatkan email untuk refreshing dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Belum tentu sebulan sekali.

Tapi pemuda itu ? Siapa namanya ? Baskoro ? Nama yang unik sekali untuk jaman ini. Nama yang klasik. Namun telah melekat di hatinya. Entah kenapa.

Amelia jadi ingat pertemuan mereka yang pertama. Di seminar itu. Lalu ia sempat melupakannya. Pekerjaan yang bertumpuk. Orang-orang yang datang silih berganti. Membuat ia tidak ingat sama sekali dengan Baskoro, yang hanya sekilas dilihatnya ketika mereka berbincang di seminar itu.

Lalu ketika ia merapikan isi dompetnya. Kartu nama pemuda itu terjatuh dari dalamnya. Amelia ingat. Itu adalah pemuda yang paling manis senyumannya. Ekspresinya tenang dengan tatapan mata yang hangat. Ia juga asyik diajak berbincang-bincang. Dan tanpa pretensi apa-apa Amelia mengirimkan sepotong email. Just say hello !

Tidak disangkanya pemuda itu membalas dengan antusias. Amelia tergagap. Ia sudah lama tidak berkomunikasi secara pribadi dengan seseorang. Mungkin lima tahun. Mungkin sepuluh tahun. Sejak ia menikah dengan Iskandar, dan memiliki anak-anak yang selalu membuatnya sibuk . Belum lagi dengan kariernya di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Sebagai konsultan senior, ia nyaris tidak memiliki waktu pribadi untuk bersenang-senang . Tapi Baskoro sudah menjungkirbalikkan kehidupannya.

Semula ia berpikir, hanya sekedar say hello. Hanya sekedar email. Tapi siapa menduga kalau sekedar email itu ternyata menggairahkan dirinya. Mengobarkan semangatnya. Walaupun kadang hanya sebaris kata, tetapi komentar Baskoro yang ringan dan kadang lucu, telah menggelitik hatinya. Ia pun dengan penuh semangat, kalau bisa setiap pagi, selalu mengirimkan sepotong email. Dengan harapan Baskoro akan membaca dan menjawabnya.

Hanya sampai di situ ia berani melangkah. Ia tidak berani mengambil sikap lebih jauh. Ia bahkan tidak pernah memasukkan nomor ponsel pemuda itu ke dalam daftar di ponselnya. Untuk apa ? pikirnya suatu ketika. Toh ia tetap bisa berkomunikasi melalui dunia maya.

Hingga peristiwa di Jogya itu. Ketika ia sedang sendirian. Ketika ia sedang tidak memiliki teman untuk berbincang. Saat itu ia teringat pada Baskoro. Dan mencari-cari nomor ponselnya di kartu nama yang terselip entah di mana. Untunglah…kartu nama itu masih tersimpan bersama kartu nama lain yang diterimanya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Kecuali, setelah ia mengirimkan pesan sms, dan mendapatkan jawabannya.

Hatinya langsung meleleh.

*

Bandara Soekarno Hatta, jam dua belas siang.

Amelia sedang menyeret kopernya sepanjang koridor ketika ponselnya bergetar. Ia tersenyum senang. Sebaris pesan singkat ada di sana .

Duuuh…gila nih anak ! Pikir Amelia panik. Apa maksudnya sih ? Tapi tunggu dulu. Aku nggak boleh ge-er, gede rasa. Barangkali saja dia hanya bercanda. Anak muda sekarang kan suka begitu. Walau bagaimana aku masih lebih senior dari pada dia, Amelia mengingatkan dirinya.

Amelia memencet tombol kirim. < style="" lang="SV">Sudah mendarat dengan selamat. Nanti deh diceritakan. Tapi aku belum sempat kirim email >.

Bip. Baskoro tersenyum. Ia membalas cepat. <>

Amelia terhenyak. Menekan tombol kirim lagi. <>

Selamat istirahat, ya >.

*

Toko Buku Aksara, Kemang. Jam 16.00. Matahari setengah condong ke Barat.

“Kok kamu memilih tempat ketemuan di sini sih ?” Tanya Baskoro penasaran. “Aku sampai keriting mencarinya dari tadi.”

“Aku ada keperluan, mencari buku untuk referensi laporan. Lagi pula, kalau kamu ingkar janji aku masih bisa luntang lantung sendirian.” Senyum Amelia mengembang. Wajahnya yang selalu ceria tampak segar di sore hari itu. Apalagi dengan kemeja kerja yang rapi ia tampak elegan dan professional. Diam-diam Baskoro mengaguminya.

“Memangnya aku bertampang ingkar janji ?” kata Baskoro sambil menjejeri langkah Amelia, yang sedang sibuk mencari-cari buku di rak yang berjajar rapi.

“Tampang sih tidak mewakili. Aku hanya jaga-jaga saja. Eh, tumben kamu bisa ngabur dari kantor jam segini ? Alasan ketemu klien ?” Amelia tersenyum menggoda.

“Tau aja. Kan kamu memang klienku…hehehe…Makanya harus dilayani sebaik-baiknya. Ngomong-ngomong mau duduk di mana niih ? Aku sudah pegal berdiri dari tadi.”

“Sabar sebentar dong. Aku bayar bukunya dulu, setelah itu kita cari tempat duduk yang enak di luar sana. Kamu tahu kan, daerah ini punya tempat makan yang bermacam-macam. Mau yang pakai musik ?”

“Mhm…terserah kamu sih. Tapi kalau ada musiknya, kapan kita ngobrolnya ?”

“Hehehe…iya juga. Kalau begitu kita cari tempat yang tenang saja, ya ? Kamu suka kopi atau teh saja ?”

“Apa saja oke, asal sama kamu !” Baskoro memberanikan diri.

“Duuh..gombal, sore-sore begini. Kalau begitu, kita ke seberang sana saja ya ?”

Sambil berpegangan tangan, mereka menyeberangi jalan. Mengarungi arus lalu lalang kendaraan yang nyaris tidak mengurangi kecepatannya. Tanpa disadarinya, Amelia merapatkan tubuhnya kepada Baskoro. Entah mengapa , ia merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu. Dan dengan langkahnya yang lincah ia mengikuti langkah Baskoro yang mantap.

*

Amelia menatap layar komputernya. Kosong. Sudah dua hari ini ia tidak sempat mengirim email. Di layar hanya ada satu pesan baru dari Baskoro. Tanggal kemarin. Itu pun hanya pesan singkat, tentang aktivitasnya di kantor yang semakin padat. Amelia menarik nafas panjang.

Apa yang aku harapkan dari dia ? pikirnya sedih, dengan mata menerawang. Beberapa bulan belakangan ini ia merenungi lagi perjalanan hidupnya. Jujur ia mengakui, bahwa sejak perkenalannya dengan Baskoro, banyak hal-hal positif yang dirasakannya. Di antaranya , ia tidak mudah panik lagi seperti sebelumnya. Dan ia pun lebih mampu mengontrol emosinya . Ia memang banyak berbincang dengan pemuda itu. Membahas berbagai masalah, mulai dari soal pekerjaan mereka di bidang konsultan dan sedikit menyinggung urusan pribadi juga. Ternyata di balik usianya yang relatif lebih muda, ia sarat dengan pengalaman, termasuk pengalaman karena gagal berumahtangga beberapa waktu yang lalu.

Amelia termenung. Selama ini ia sangat tertutup mengenai masalah pribadinya. Tapi entah mengapa, dengan Baskoro ia bisa terbuka dan berbicara apa adanya. Seandainya saja...ia bertemu pemuda itu di masa-masa sebelumnya. Amelia menghela nafas. Aahhh...tidak perlu seandainya. Baskoro memang datang tepat pada waktunya. Pada waktu ia mengalami krisis dalam rumahtangga. Pada saat ia membutuhkan seseorang untuk berbagi. Pada saat ia membutuhkan seseorang yang dapat memberikan solusi.

Bip. Ponselnya bergetar. Dari Baskoro.

Amelia tersenyum. Ia semakin bisa membaca suasana hatiku, bisiknya dengan perasaan tidak menentu.

Ia menekan tombol ’kirim’.

Bip. . Amelia geli. Ini tiruan dari iklan . Baskoro memang selalu bisa membuat suasana hatinya menjadi hidup lagi.

Ia menekan tombol kirim lagi.

Bip. .

Seketika Amelia merasa semangatnya bangkit. Lalu hatinya berdebar-debar. Nanti malam ia ada janji makan malam dengan relasi perusahaannya . Ia harus memilih.

Oke deh...aku siap di tempatmu, sekitar jam 4 sore>.

Sepanjang siang itu Amelia gelisah. Ia merasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Apa-apaan sih aku ini ? Pikirnya panik. Sebentar-sebentar ia melirik ke arlojinya. Dan seperti tidak percaya, menatap ke jam dinding yang dirasanya tidak pernah bergeser jarum petunjuknya.

*

Jam enam sore. Di kantor Amelia.

Tadi mereka sudah minum kopi sebentar di kafe yang ada di gedung sebelah kantornya. Itu adalah ritual mereka hampir setiap sore, selepas rutinitas pekerjaan yang mengikat. Ini entah yang keberapa kali mereka duduk bersama. Berbincang berbagai hal. Berbagi berbagai masalah. Kadang tertawa. Kadang tersenyum geli. Kadang hanya diam sambil mendengarkan musik mengalun pelan.

Tapi sore ini berbeda dengan sore lainnya. Mereka tak banyak berbincang. Hanya saling menatap, dan sesekali Baskoro meremas tangannya. Kopi yang diminum juga seperti ampas. Terlalu pahit untuk ditelan. Entahlah...

Amelia sudah mengatakan, mungkin mulai besok ia tidak akan mengirim email lagi. Ia ingin menenangkan diri dulu. Bukan apa-apa...ia sendiri sangat menikmati interaksi itu. Ia menikmati kencan mereka di dunia maya. Ia juga menikmati setiap pertemuan di sore hari yang mereka lalui bersama. Tapi ia tahu, hal itu akan membuatnya larut dan terhanyut. Dan mungkin saja ia tidak akan dapat menahan diri lagi. Selalu ada kemungkinan untuk salah melangkah. Resikonya terlalu berat . Untuk mereka berdua.

Baskoro memahaminya. Ia pun menyadari keterbatasan yang mereka miliki. Seandainya saja mereka sama-sama masih bebas seperti burung terbang di langit. Seandainya saja tidak ada koridor waktu yang membatasi. Seandainya saja mereka tidak cepat larut dalam perasaan yang teraduk-aduk seperti ini.

”Tapi aku kan masih boleh mengirim sms atau email sekali-sekali ?” bisiknya pelan . Amelia mengangguk lemah. Jangankan sms atau email. Kehadiranmu pun selalu aku nantikan, jeritnya. Tapi hanya dalam hati. Ia lalu memalingkan wajah, menatap kepergian Baskoro dengan hati seperti diremas-remas

Pelan-pelan Baskoro melangkah menuju ke mobilnya . Ia masih diam beberapa saat di lapangan parkir. Menatap bayangan Amelia, yang masih tertegun di pintu gedung kantornya.

Seandainya saja....! Baskoro berbisik lagi. Rasanya terlalu sakit untuk kehilangan sesuatu yang baru saja bersemi di sudut hatinya.

Dan bisikan itu melayang bersama angin sore.

*****

Jakarta, 10 Oktober 2006

Ietje

Hidup ini sebuah perjalanan

Kamis, 27 Desember 2007

Hari ini ... menjelang akhir tahun, biasanya aku suka merenung sendiri. Dan itu udah aku mulai tadi pagi. Setelah perjalanan singkat naik KRL AC Bintaro-Sudirman bareng sama Bang Rizali, akhirnya kami berpisah di depan stasiun Dukuh Atas. Dia naik Metromini. Aku jalan kaki. Menikmati pagi yang cerah tapi nggak panas.

Aku jalan kaki sendirian, sambil melamun ke sana ke mari. Melamun teman yang 'jauh'...dan melamun yang 'dekat'. Asyiiiik juga...

Lalu kepikiran, kenapa perjalanan itu nggak aku tulis dalam satu Blog tersendiri. Aku bisa lebih bebas berekspresi, bisa dalam bentuk cerpen, bisa juga dalam bentuk puisi - kalau aku lagi kehabisan kata-kata.

Dan tadi di kantor, aku sempat buka-buka file lama. Ada beberapa cerpen yang belum dipublikasi. Aku pikir, karena itu adalah bagian dari perjalanan hidupku, maka akan aku posting di ruang ini. Barangkali ini sisi lain lagi dari diriku. Semua catatanku di masa lalu, yang bahasanya jadul ataupun yang gaul seperti bahasa masa kini bisa mendapat tempat di sini tanpa aku harus merasa sungkan atau terbatas pada koridor birokrasi.

Okelah...nanti setelah makan siang, aku akan posting cerpenku ya. Ini adalah gabungan dari pengalamanku dan pengalaman sahabatku. Dan aku pikir, cukup menarik juga sebagai kontrol emosiku...he he he...

Salam dari pojok kisah,

Ietje