Minggu, 19 Juli 2009

BIDADARI KERTAS

CP-2009 (A-6
Start : 02/06/2009 14:15:05
Final : 03/06/2009 11:12:37


BIDADARI KERTAS....


Irma menyesap kopinya pelan-pelan. Menikmati tetes demi tetes minuman pahit itu meluncur ke tenggorokannya. Ia memang punya kebiasaan minum secangkir kopi pahit di pagi hari. Dan sekerat roti tawar tanpa isi.

Di hadapannya duduk Ferry. Yang sedang asyik membaca koran pagi.

“Jadi berangkat hari ini, say ?” suara Ferry yang berat memecah kesunyian. Irma menoleh. Tersenyum. Dia selalu ingin tersenyum bila Ferry menyebutnya dengan panggilan ‘say’. Seperti anak muda. Agak norak, menurut Irma, tapi dia suka. Karena Ferry menyebutnya dengan nada yang tidak biasa.

“Ya, iyalah...acaranya sudah dari kemaren malam. Aku sudah kehilangan waktu satu hari.”
“Hmm...iya sih. Tapi nggak apa-apa, kan ?” Ferry mengangkat wajahnya, dan melemparkan senyum jahil. Matanya berkilauan.

“Huuuh...nggak apa-apa bagaimana ? Aku kan mesti bikin laporan. Kalau aku di sini terus...kapan aku bisa bikin laporannya ?”
“Kalau kamu di sini terus...ya, aku dekap terus...hehehehe....” Ferry melemparkan tatapan menggoda.

“Nggak aaaah...ntar nggak selesai-selesai...,”Irma beranjak bangun. Bergegas membenahi cangkir kopi dan piring-piring yang masih ada di atas meja. Lalu ia melenggang ke dapur sambil menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki itu. Ferry melompat, melemparkan koran yang dibacanya.
“Tapi kamu suka kan ? Seperti ini ?” Ferry mengecup belakang telinga Irma.

“Feeeeerrr....ini sudah jam berapa ?” Irma mendelik. Pura-pura marah.
“Jamku mati....,”Ferry berkata cuek. Memeluk wanita itu dari belakang.

*

Irma menatap arlojinya. 

Sudah jam dua belas. Ia baru saja memasuki ruang seminar. Mencari tempat duduk sesuai dengan arahan dari panitia penyelenggara. Seharusnya ia datang sejak pembukaan acara tadi malam. Tapi Ferry berhasil membujuknya untuk menginap lagi. Di rumah mungil tempat mereka selalu bertemu selama ini. Rumah, yang tanpa sengaja mereka temukan diantara deretan rumah-rumah sebuah kompleks pemukiman yang asri.

Dan disitulah mereka bertemu secara rutin, hampir setiap minggu. Atau ketika ada kesempatan, seperti saat ini. Irma tersenyum. Hidupnya nyaris tenggelam, sebelum ia mengenal Ferry. Laki-laki itu, dengan segala kesederhanaan sikapnya, telah merubah hidup Irma. Dalam beberapa bulan. Ia merubah Irma, yang semula sudah tidak memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupannya, menjadi bergairah kembali.

“Kamu masih suka mengenang masa lalu ? Itu bagus. Tapi apa kamu mau tinggal di masa silam ?” Begitu Ferry menyentilnya beberapa bulan lalu. Saat ia sedang mengurus klaim asuransi atas nama Adrian, suaminya. Sebetulnya Ferry ingin bersikap profesional, tapi melihat wajah Irma dan tatapannya yang nanar, hatinya langsung meleleh. Ada sesuatu di dalam diri wanita itu, yang membuatnya ingin meraih dan merengkuhnya. Duuuh...

Irma terduduk pasrah di depan Ferry. Mencermati satu demi satu kata-kata yang diucapkan Ferry dengan nada yang hangat dan simpatik. Berbeda dengan orang lain, Ferry tidak menyalahkan sikap Irma yang terpuruk, sejak ditinggalkan oleh Adrian. Dia hanya mengungkapkan fakta. Kenyataan. Yang membuat Irma berpikir ulang tentang kehidupannya.

“Yaaah...aku tahu. Tapi aku tidak tahu, harus bagaimana memulai langkah lagi.” Irma menatap nanar. Dia memang tidak bisa berpikir jernih. Kepergian Adrian yang mendadak di dalam tugasnya, membuat Irma merasa dunia seperti runtuh seketika.

“Gampaaaaaanggg....angkat kaki kamu...angkat kepala kamu...ya mulai jalan...” Ferry tersenyum sambil menatap tajam ke arah Irma.
“Kamu bilang gampang...gampang...apanya yang gampang ???” Irma nyaris berteriak. Sengit. “Apa-apaan orang ini ?” pikirnya dengan marah. “Dia belum mengenal aku, tapi berani-beraninya dia bilang begitu.”

“Hmmm...sabar Cantik. Jangan marah-marah dulu. Eeeh...marah juga tidak apa-apa. Kemarahan itu perlu untuk membangkitkan energimu. Ayoooo...marah lagi... Pleaaseeee....”

“Ferrrrrr....aku tidak bercanda. Aku serius niiih...!!!”Irma ingin meledak. Ia belum pernah bertemu dengan orang seaneh ini. Ia juga kaget, Ferry menyebutnya ‘Cantik’. Padahal di usia menjelang kepala empat ini, Irma merasa seperti seorang wanita tua yang jelek dan cerewet.

“Yaaa...serius...Ayoooo...marah...Semakin marah, kamu semakin bersemangat. Dan semakin galak... kamu jadi semakin cantik...” Ferry tertawa kecil. Memperhatikan wajah Irma yang sudah merah padam.

“Feeeerrrr....kamu keterlaluan....!!!” Irma benar-benar meledak sekarang. Dia bangkit. Mendekati Ferry. Dengan wajah yang nyaris terbakar karena emosi yang bangkit.

Ferry tidak tinggal diam. Dia membuka kedua lengannya selebar-lebarnya...dan membiarkan wanita itu menubruknya. Dalam sekejap Irma tenggelam di dalam pelukan Ferry. Menangis dan marah di dalam satu nada. Menangis kesal. Takut. Marah. Semua emosi yang terhimpit selama berbulan-bulan. Larut dalam dekapan kuat Ferry. Lalu pelan-pelan...Ferry mengelus punggung Irma...membelai lembut rambutnya yang sekarang sudah tumbuh lebih panjang dan menyentuh bahunya yang terguncang-guncang. 

Dan itu adalah awal segalanya. Sesuatu yang baru. Untuk Irma. Dan Ferry.

*

Irma menghela nafas panjang. 

Konsentrasinya nyaris buyar. Dia hampir tidak dapat mengikuti jalannya seminar dengan baik. Padahal dia diminta oleh perusahaannya untuk membuat laporan mengenai perkembangan bisnis Asia di masa krisis. Ia hanya menggigit-gigit bolpoinnya. Mendengarkan pembicara di depan forum menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat. Tapi Irma hanya mendengar sepotong-sepotong, seperti lagu yang salah komposisi. “Jangankan krisis di Asia, krisis di dalam kehidupanku saja belum terselesaikan,” bisiknya dengan dada yang agak nyeri.

Pikirannya melayang kesana kemari. Ke saat-saat pertemuan pertama dengan Ferry. Ke saat-saat dia kehilangan Adrian, suami yang pernah sangat dicintainya. Bahkan sampai hari ini pun, ia masih mencintai Adrian. Rasanya belum lama ia jalan bersama Adrian. Mengisi banyak tahun yang penuh dengan dinamika. Tapi karena tugasnya yang tidak menentu di berbagai daerah, menyebabkan mereka sering tidak dapat bertemu. Tugasnya yang terakhir ke pedalaman Kalimantan telah memisahkan mereka. Pesawat kecil yang ditumpangi Adrian jatuh. Dan hilang.

Irma merasa goyah. Ia sudah biasa hidup sendiri sebelumnya. Ia sudah biasa menjalani hari-harinya dengan peran ganda sebagai ibu dan ayah bagi anak semata wayang mereka, Sandra. Tapi tetap ada Adrian untuk berbagi masalah. Tetap ada Adrian yang menghangatkan malam-malam mereka, bila laki-laki itu pulang dari penugasannya.

Sekarang ia benar-benar harus sendirian. Berjalan gamang di tengah gelombang kehidupan.

Benar, pernah ada teman-teman dan sahabat yang datang mengucapkan simpati. Selalu ada saudara yang siap didatangi untuk bersilaturahmi. Tapi ketika hatinya menjerit, ketika ia didera kesepian yang sangat, dia tidak memiliki siapa-siapa.

Sampai Ferry menyentuh rambutnya. Membiarkan ia menangis di bahunya yang bidang. Mengecup bibirnya. Membasahi hatinya. Tapi....Ferry bukan miliknya.

*

“Say....melamun lagi,” Suara Ferry menyentak lamunannya. 
“Kok tahu aku melamun ?” Irma mendesah manja. Setengah berbisik.
“Suara kamu mendadak hilang,” sahut Ferry dari seberang sana. ”Pasti bukan karena sinyal yang ngedrop khan ?”
“Bukaaaan...aku lagi melihat-lihat niiih...”
“Lihat-lihat apa ? Awas saja kalau kamu berani lihat-lihat yang lebih keren dari aku.” Ferry pura-pura mengancam.

“Yang lebih keren sih banyaaaaaaakkkk.... tuuuuh ...satu... dua... tiga... adduuuh...ada setengah lusin...hihihi...” Irma bercanda sambil mengekspresikan suaranya seakan-akan melihat sesuatu yang menarik.

“Huuuuuh...jangan tertipu dengan penampilan...Banyak yang keren...tapi nggak ada yang seperti aku kan ?” Ferry mengajuk lagi. Irma, tanpa sadar, mengangguk. 

Uuuuh...padahal mana laki-laki itu tahu kalau dia mengangguk. Tapi di dalam hatinya, Irma memang mengakui, belum ada laki-laki seperti Ferry. Paling tidak, yang pernah mengisi hatinya seperti saat ini. Tidak ada yang sabar dan lucu sekaligus, seperti Ferry. Yang membuat ia menjadi bersemangat setiap hari. Bahkan ketika jarak dan waktu memisahkan mereka. Ferry masih selalu mengingatkan dia.

“Kok diam aja, say...?” Suara Ferry memecah lamunan Irma. Dia memang banyak melamun akhir-akhir ini. Ketika mereka tidak bisa bertemu sesering dulu lagi.

“Nggak...Cuma kangen saja...” suara Irma melemah. Ia memang sangat merindukan laki-laki itu. Tak sekedar merindukan sentuhannya. Tapi ia ingin memiliki Ferry untuk dirinya sendiri. Tidak berbagi, seperti sekarang. Berbagi dengan kehidupan Ferry yang lain.

“Sama say...aku juga kangen. Kapan ya bisa ketemu kamu ?”
“Aaaah...kayaknya masih lama deeeh. Kamu masih keliling ke daerah juga kan?”
“Iya...namanya tugas. Cari makan...Kamu tahu kan say ?”
“Iiiiiihhh...say melulu....”
“Lhaaa...kan kamu memang say-ku....Norak ya ? hahaha....”Ferry tertawa di ujung telepon. Suaranya bergema. Jauh masuk ke relung-relung hati Irma. Ia merasa ada sesuatu yang menggigit di sana.

“Biar ajalah norak...asalkan aku bener-bener say-mu...hehehe...”Irma ketularan geli mendengar kata-kata dan nada bicara Ferry yang terkadang memang unik.

“Ya sudah....kamu hati-hati aja kerjanya. Aku usahakan bisa pulang minggu depan. Aku udah kangeeeen banget sama kamu.”
“Sama....”
“Yaaa sudah....dadaaah...”
“Dadaaaaah....”

*

Irma melangkah pelan. Menyusuri toko demi toko di pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota . Menghabiskan sisa sore dalam kesendirian. Kadang ia memang kemari untuk melepaskan kejenuhannya. Melamun sendirian di tengah keramaian. Dan kali ini, melayangkan lamunannya kepada Ferry, yang entah berada di mana saat ini.

Sudah lebih satu bulan ia tidak bertemu Ferry. Tugas mereka memang tidak memungkinkan pertemuan setiap waktu. Belum lagi kewajiban yang harus mereka jalani di dalam kehidupan masing-masing. Dia dengan kehidupannya bersama Sandra. Dengan pekerjaan rutinnya. Dan Ferry, yang masih menjadi misteri baginya, dengan kehidupannya di luar sana.

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku ,” begitu Ferry pernah membisikkan kata-kata itu kepadanya, di saat yang lalu . “Yang penting, pada saat kamu butuh , aku ada di sisi kamu.”
“Iya siiih...aku hanya penasaran...” ajuk Irma.
“Kadang hidup perlu misteri. Supaya kamu selalu penasaran.”
“Hmm....tapi kamu sayang sama aku kan ?”
“Dijamin...kamu sayangku, say...hehehe...”
“Hahaha....noraaaaak....!”

Mereka hanya bisa bertemu sesekali. Itupun cuma sebentar. Bila ada waktu, kadang Irma menyempatkan datang ke rumah mungil tempat mereka biasa bertemu. Rumah yang mereka kontrak bersama untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Rumah, tempat mereka bisa melepaskan lelah dan terlepas dari himpitan kehidupan yang bergulir cepat. Rumah, dimana mereka menjadi diri masing-masing. Mereka adalah Irma, seorang wanita yang kini harus hidup sendirian. Dan Ferry, seorang laki-laki yang mencintai Irma saat ini.

Di rumah itu, mereka bisa berbagi cerita. Berbagi impian. Berbagi semangat. Bahkan berbagi sepiring nasi goreng yang dimasak di dapur mungil mereka. Yang biasanya ditutup dengan secangkir kopi pahit untuk Irma, dan secangkir teh manis hangat untuk Ferry.

Saat ini Irma hanya sendirian. Dia ingin melepaskan ketergantungannya pada Ferry. Tapi setelah sebulan ini merenung, ternyata ia masih tidak dapat membiarkan Ferry pergi dari kehidupannya. Ferry seperti sebuah misteri baginya. Seperti dia pun masih menjadi misteri bagi laki-laki itu.
 
*

Irma menghabiskan sisa sorenya di sebuah kafe di sudut pusat perbelanjaan itu . Memesan secangkir kopi, dan sepotong kue kecil untuk pengiring kopi kesukaannya. Ia membuka buku catatannya. Sebuah ornamen, berbentuk bidadari dari kertas terjatuh dari dalamnya. Irma tersentak.

Itu adalah bidadari kertas yang mereka beli bersama-sama, beberapa waktu lalu. Bidadari kertas untuk hiasan di rumah mungil mereka. Tak sekedar sebagai hiasan, tapi juga sebagai simbol hubungan mereka yang absurd. Seperti kata Irma suatu ketika, “ Bidadari itu adanya di dunia imajinasi. Kita menjadikannya seperti ada, membuatnya dari kertas, supaya kita bisa menyentuhnya ”. 

Irma menghela nafas dalam. Ia berbisik di dalam hati, seakan berbicara kepada Ferry, yang entah dimana. “ Sama seperti imajinasi kita, yang kita inginkan dia ada. Lalu kita membuat bidadari kertas di dalam setiap interaksi kita...Supaya kamu merasa bisa menyentuh aku...supaya aku bisa menyentuh kamu...Bidadari yang sesungguhnya kan hanya misteri...tapi bidadari kertas bisa kita lihat setiap saat, setiap waktu...seakan rohnya juga ada di situ...”

Pelan-pelan...ia menyesap kopinya. Menatap sisa-sisa bubuk kopi yang tertinggal di dasar cangkir. Seakan-akan ingin menerawang hari esoknya. Tapi dia tahu...hari esoknya masih merupakan misteri...seperti perjalanan hidupnya yang terus bergulir...dengan Ferry, ataupun tanpa laki-laki yang sekarang mengisi hidupnya itu.


♥♥♥


Jakarta, 3 Juni 2009



Ietje S. Guntur

Special note :
Buat sahabat-sahabatku yang misterius forever...Fred, Ryan, Jeff, Mury, Haaar...Hidup ini memang lucuu yaaa....hehehe....Thanks buat inspirasi sepanjang jalan...

Kamis, 03 Januari 2008

Hujan pun bisa bercanda...


Art-Living Sos 2007 (A-1
Start : 04/01/2008 8:50

Finish : 04/01/2008 9:12


HUJAN PUN BISA BERCANDA


Pagi ini, seperti banyak pagi yang lain

hujan turun lagi...

Kali ini gerimis...tapi Cuma sebentar...

Tidak lama

hujanpun berhenti...

Aku melihat dari balik jendela

Ada rasa enggan

Untuk beranjak ke luar rumah

Tapi tugas kehidupan

Berbisik memanggil

Menggiring langkah untuk bergegas

Hujan turun lagi

Kali ini lebih deras

Diiringi angin yang menusuk dingin

Aku mengambil payung

mengembangkannya seperti bunga

Baru jalan selangkah dua langkah

Hujan berhenti

Aku menatap langit yang kelabu

Awan pun menatapku sendu

Membujukku..

Mengayun langkah

Awan menyapaku

Hujan turun lagi...

Masih gerimis...

Aku tersenyum

Hujan pun bisa bercanda juga

......

Menghangatkan hati

Menghangatkan semangat

Dan membawa langkahku

Menerobos tirai kehidupan

♥♥

Jakarta, 4 Januari 2008

Ietje S. Guntur

Rabu, 26 Desember 2007

Art-Cerpen 2006 (H-10 Seandainya....

Art-CP 2006 (H-10

Start : Minggu, 10/8/2006 10:41:38 AM

SEANDAINYA….

Pagi di kantor Baskoro.

Dengan perasaan tidak sabar ia menyalakan komputernya. Lalu mencari jalur internet. Triiit ! Dapat. Buka ‘inbox mail’. Cepat tangannya memainkan mouse, menelusuri nama-nama yang masuk. Hh…itu dia. Segera ia menekan tombol mouse. Klik ! Di layar komputer tampak sehalaman email dari seseorang.

*

: Dewi.Fajar@gmail.com

Baskoro@yahoo.com

Haloooow Dewa Langit….

Met pagiiiii….Sudah melek lagi hari ini ? Pasti sudah duduk manis di depan komputer ? Gitu dong, mesti rajin kalau hari Senin. Sudah sarapan apa belum ? Ayo sarapan dulu. Ntar masuk angin lagi…Kalau pagi-pagi begini sudah masuk angin kan bikin repot orang sedunia…hehehe…

Oke ya…met kerja…semoga sukses…and…jangan nakal-nakal…jangan manjat-manjat tembok…jangan demo sembarangan…hihihi…

Have a nice day….

Dewi Fajar yang rajin banget…

*

Hari yang lain .

: Dewi.Fajar@gmail.com

Baskoro@yahoo.com

Hai Pirates....

Lagi ngapain ? Masih menjadi perompak atau sudah duduk di depan komputer ? Harusnya pagi begini sudah segar lagi, ya ? Apalagi kalau weekend kan biasanya lebih segar dari biasanya. Ada rencana apa liburan besok ? Ke luar kota or mau melungker di kasur saja seperti siluman ular ?

Aku besok malah ada pertemuan dengan teman-temanku dari Jogya. Mumpung ada waktu, jadi pada ngumpul semua untuk evaluasi program . Aku sih senang-senang saja, soalnya kalau sudah ngumpul pasti banyak cerita yang seru-seru. Mau diceritain nggak? Tapi janji dulu...dilarang merem. Apalagi merem melek. Itu namanya nggak sopan sama orangtua.

Oke ya...aku mau beresin kerjaan hari ini. Ntar siang ada yang ngajakin lunch. Ditraktir sekali-sekali enak juga sih...hehehe...(ini pernyataan...bukan pertanyaan ! Dan bukan nyindir loooooh....)

Have a nice weekend...

DF-yang mau ditraktir...

*

Baskoro tersenyum. Belakangan ini ia jadi rajin membuka email setiap pagi. Berharap ada email masuk. Entah sekedar ucapan selamat pagi. Entah sekedar kiriman jokes yang lucu-lucu, entah sekedar informasi jalan tol yang semakin macet, dan kadang ada kiriman tantra totem berupa kata-kata bijak yang sangat mengena dengan situasi yang dihadapinya.

Mula-mula ia hanya sekedar membacanya, kalau sempat. Tapi sekarang, ia selalu menunggu sesuatu yang dikirim oleh Sang Dewi Fajar itu. Selalu ada yang baru. Selalu ada yang menggelitik. Dan yang jelas, selalu membuatnya lebih bersemangat.

Ia tidak tahu kenapa ia jadi tergantung pada email kiriman Sang Dewi Fajar itu. Entah bagaimana, ia tahu suasana hatiku, pikir Baskoro dengan heran. Ketika aku murung, tiba-tiba ia mengirimkan email mengenai renungan hidup. Ketika perasaanku tertekan, ia mengirimkan email mengenai persahabatan. Dan ketika aku malas bekerja karena moodku sedang drop, ia mengirimkan email yang jenaka dengan komentar yang lucu-lucu. Aah….

*

Sebetulnya belum lama ia mengenal Sang Dewi Fajar. Tentu saja ini hanya nama di dunia maya. Dunia virtual yang tak kasat mata. Mereka berkenalan di sebuah seminar. Ia masih ingat, ketika itu Sang Dewi sedang celingukan mencari tempat duduk, dan ia menawarkan tempat duduk di sebelahnya yang kebetulan kosong.

Begitulah. Mereka ngobrol sebentar di sela-sela pembicaraan presenter yang ada di depan. Entah bagaimana, Baskoro merasa cocok berbincang dengannya. Dan seperti lazimnya, mereka bertukar kartu nama. Baskoro melirik selintas. Ternyata profesi mereka sama. Klop. Aku bisa bertukar pikiran dengannya, pikir Baskoro dengan yakin.

Amelia, begitu nama Sang Dewi Fajar, pulang lebih cepat dari jadwal seminar. “Aku ada janji dengan seorang teman “, katanya ketika akan pamitan. Tampaknya ia orang yang memiliki segudang kesibukan, duga Baskoro. Dugaannya ternyata benar. Wanita bertubuh mungil itu memiliki berbagai kesibukan, yang tentunya menguras seluruh waktu dan energinya.

“Ah…tidak. Aku hanya menjalankan hobiku saja. Kebetulan hobiku itu banyak, jadi kelihatannya kegiatanku juga bermacam-macam. Percaya deh…aku lebih banyak bersantai daripada bekerja.” Begitu kilah Amelia ketika Baskoro mencoba menjajagi lebih lanjut mengenai aktivitasnya.

“Kapan kita bisa ngobrol lagi nih ?” pancing Baskoro, menyembunyikan rasa antusiasnya. Ia harus berhati-hati, tidak semua wanita seperti Amelia mudah didekati.

“Nanti aku kirim email saja. Kalau telepon kuatir sedang sibuk.” Amelia menjawab lembut. Diplomatis. Ia tidak menolak. Juga tidak menerima begitu saja. Email, sarana yang relative aman. Mereka bisa berkomunikasi kapan saja, tanpa harus bertatap muka. Padahal, aku ingin berbincang langsung dengannya, batin Baskoro.

“Oke. Aku tunggu, ya .” Baskoro penuh harap. Aneh juga, kenapa bukan aku yang berinisiatif mengirim email ke dia, pikirnya geli. Tapi kalau dia menanggapinya lain, atau dia menolaknya, kan aku yang malu. Atau gengsi ?

Begitulah. Tidak ada kabarnya lagi. Baskoro mengira Amelia sudah lupa. Tiba-tiba suatu pagi Baskoro menerima emailnya, dengan inisial Dewi Fajar. Ia sempat terheran-heran, karena nama itu tidak pernah ada di dalam daftar alamat emailnya. Hampir saja email itu dibuangnya, kalau ia tidak teliti membacanya. Jauh di bawah sana, ada nama Amelia. Huuuh…hampir saja, bisiknya lega.

Sejak itu, ia dan Amelia saling berkirim kabar melalui email. Paling tidak sehari sekali. Dan tampaknya Amelia, atau ia lebih suka dengan nama Dewi Fajar, hampir selalu membuka harinya dengan sepotong email di pagi hari atau selambat-lambatnya siang hari setelah usai jam makan . Dan itulah yang selalu ditunggunya hingga hari ini.

*

Hingga suatu hari. Tidak ada satu email pun. Sepanjang hari. Dan hari berikutnya. Ia merasa sangat gelisah. Tidak biasanya Sang Dewi Fajar tidak memberi kabar. Dicobanya untuk meredam perasaannya, tapi yang terjadi malahan kekacauan pikiran. Ia menyesali, mengapa ia tidak pernah menanyakan nomor ponsel wanita itu. Hanya ada kartu nama, dengan nomor telepon perusahaan. Dan sialnya, ketika ia mencoba menanyakan kepada rekan kerja Amelia di perusahaan itu, tidak ada seorang pun yang mau memberikan nomor ponselnya. Ternyata dia sangat dilindungi oleh teman-temannya, pikir Baskoro dengan penuh sesal.

Sore itu sebuah pesan singkat masuk di ponselnya.

<>Salam. DF>

Hati Baskoro seketika lega. Ia segera merespons sms itu. < st="on">lisah tidak ada email. Aku ingin menghubungi. Tapi tadi orang kantormu tidak mau memberikan nomor ponselmu. Ternyata kamu orang penting, ya ? Ada situasi gawat darurat apa ? Take care ya . Aku menunggu kamu.>

Bip. Sms masuk. Hanya sedikit repot.>.

Baskoro mengirim lagi. <>

Bip. Berlanjut. <>

Baskoro tersenyum. Kok seperti sms tentara, pikirnya geli. Ia menekan tombol kirim . .

Bip. Masuk lagi. <>.

Hati Baskoro berdebar-debar. Ia membayangkan tubuh mungil itu. Bergerak lincah ke sana ke mari. Lalu ketika ia sudah bosan bergerak, tubuh itu akan diam di dalam pelukannya. Hh…ngawur , pikirnya. Ia pasti tidak sendiri lagi. Ia pasti sudah terikat dengan seseorang.

Hati-hati Baskoro mengirim satu pesan lagi. <>

Lama dalam keheningan. Baskoro gelisah. Mungkin aku salah interpretasi, pikirnya panik. Ia nyaris minta maaf ketika ponselnya bergetar pelan. Ada nada panggil. Ohh…ternyata dia !

“Hai…halo…”, sebuah suara yang lembut menyapanya. Hati Baskoro seperti meleleh.

“Halo juga…,” akhirnya ia bisa menjawab. Kok aku jadi grogi begini, pikirnya dengan perasaan tidak menentu. Aku seperti ABG yang sedang menunggu pujaan hati, pikirnya lagi dengan perasaan geli.

“Lagi ngapain ?”

“Nggak ngapa-ngapain. Nungguin kabar dari kamu.”

“Kok nggak nelepon aja ?”

“Kuatir kamu sibuk.”

“Mmh…iya sih. Tapi aku masih punya waktu kok.”

Buat aku ? Bisik Baskoro, tapi hanya dalam hati. Ia tidak mau menunjukkan semangat yang berlebihan. Ia merasa bahwa Amelia bukan tipe wanita yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia harus tenang dan tidak gegabah. Entah mengapa, wanita itu bisa membuatnya mengendalikan sisi-sisi gegabah dari dirinya.

“Yaah…yang penting jangan terlalu cape. Kamu harus bisa jaga badan juga. Gimana situasinya ?”

“Baik. Mudah-mudahan besok aku sudah bisa pulang ke Jakarta.”

“Syukur deh. Jadi mau dipijet ?” Baskoro mencoba menggoda. Hening lagi. Baskoro merasa salah ucap.

“Seandainya saja bisa….,” suara Amelia terdengar mengambang. Hati Baskoro bertanya-tanya. Seandainya…Apa maksudnya ?

“Kenapa tidak ? Kamu sibuk sekali ?” dengan polos Baskoro bertanya.

“Tidak juga sih. Tapi kamu tahu sendirilah…,”kembali suara Amelia mengambang.

“Maksudnya…?”

“Ahh…enggak. Nggak apa-apa…Nanti saja aku ceritakan di Jakarta, ya ?”

“Oke…nggak apa-apa. Aku siap mendengarkan …” walau agak kecewa, Baskoro terpaksa mengiyakan. Lagi pula apa haknya memaksa Amelia untuk menceritakan semuanya. Mungkin dia punya masalah pribadi . Mungkin dia memang belum ingin menceritakan masalahnya.

“Makasih, Mas. Nggak apa-apa nanti saja ya ? Sorry banget. Udah dulu, ya. Aku mau diskusi dulu nih sama teman-teman. Bye !”

“Bye…met tugas ya. Take care…”.

Baskoro menatap ponselnya dengan tidak percaya. Dia memanggilku dengan sebutan seperti itu dan nada yang begitu lembut ? Astaga…waah, aku mulai norak nih. Apa salahnya dia memanggilku Mas, walaupun mungkin dia lebih senior dari aku ? Daripada dia memanggilku ‘bapak’…aduuuh..rasanya aku jadi tua banget. Oke nggak apa-apa…dia boleh menyebutku apa saja. Kadang dia bilang aku Dewa Langit. Kadang dia bilang aku Pirates. Terserah deh. Yang penting dia masih mau menghubungi aku.

*

Di Yogyakarta. Gempa di akhir Mei tahun itu memporak-porandakan proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan tempat Amelia bekerja. Ia harus segera terjun ke lapangan, memeriksa proyek dan seluruh tenaga kerja yang terlibat di sana. Sejak kedatangannya, siang malam ia harus melakukan kordinasi dengan berbagai pihak. Ia merasa panik, cemas dan lelah menjadi satu . Rasanya seluruh emosinya teraduk-aduk, tapi ia tidak boleh menunjukkan hal itu di depan rekan-rekannya. Ia harus tegar, dan harus mengambil sikap yang luwes. Semua kesibukan itu membuatnya melupakan berbagai hal. Ia pun sempat melupakan segala ritual paginya.

Amelia tersenyum. Ritual pagi ? Entah sudah berapa lama ia jadi sibuk berasyik-asyik dengan emailnya setiap pagi. Padahal dulu, ia hanya mengirim email untuk pekerjaannya. Hanya sesekali ia memanfaatkan email untuk refreshing dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Belum tentu sebulan sekali.

Tapi pemuda itu ? Siapa namanya ? Baskoro ? Nama yang unik sekali untuk jaman ini. Nama yang klasik. Namun telah melekat di hatinya. Entah kenapa.

Amelia jadi ingat pertemuan mereka yang pertama. Di seminar itu. Lalu ia sempat melupakannya. Pekerjaan yang bertumpuk. Orang-orang yang datang silih berganti. Membuat ia tidak ingat sama sekali dengan Baskoro, yang hanya sekilas dilihatnya ketika mereka berbincang di seminar itu.

Lalu ketika ia merapikan isi dompetnya. Kartu nama pemuda itu terjatuh dari dalamnya. Amelia ingat. Itu adalah pemuda yang paling manis senyumannya. Ekspresinya tenang dengan tatapan mata yang hangat. Ia juga asyik diajak berbincang-bincang. Dan tanpa pretensi apa-apa Amelia mengirimkan sepotong email. Just say hello !

Tidak disangkanya pemuda itu membalas dengan antusias. Amelia tergagap. Ia sudah lama tidak berkomunikasi secara pribadi dengan seseorang. Mungkin lima tahun. Mungkin sepuluh tahun. Sejak ia menikah dengan Iskandar, dan memiliki anak-anak yang selalu membuatnya sibuk . Belum lagi dengan kariernya di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Sebagai konsultan senior, ia nyaris tidak memiliki waktu pribadi untuk bersenang-senang . Tapi Baskoro sudah menjungkirbalikkan kehidupannya.

Semula ia berpikir, hanya sekedar say hello. Hanya sekedar email. Tapi siapa menduga kalau sekedar email itu ternyata menggairahkan dirinya. Mengobarkan semangatnya. Walaupun kadang hanya sebaris kata, tetapi komentar Baskoro yang ringan dan kadang lucu, telah menggelitik hatinya. Ia pun dengan penuh semangat, kalau bisa setiap pagi, selalu mengirimkan sepotong email. Dengan harapan Baskoro akan membaca dan menjawabnya.

Hanya sampai di situ ia berani melangkah. Ia tidak berani mengambil sikap lebih jauh. Ia bahkan tidak pernah memasukkan nomor ponsel pemuda itu ke dalam daftar di ponselnya. Untuk apa ? pikirnya suatu ketika. Toh ia tetap bisa berkomunikasi melalui dunia maya.

Hingga peristiwa di Jogya itu. Ketika ia sedang sendirian. Ketika ia sedang tidak memiliki teman untuk berbincang. Saat itu ia teringat pada Baskoro. Dan mencari-cari nomor ponselnya di kartu nama yang terselip entah di mana. Untunglah…kartu nama itu masih tersimpan bersama kartu nama lain yang diterimanya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Kecuali, setelah ia mengirimkan pesan sms, dan mendapatkan jawabannya.

Hatinya langsung meleleh.

*

Bandara Soekarno Hatta, jam dua belas siang.

Amelia sedang menyeret kopernya sepanjang koridor ketika ponselnya bergetar. Ia tersenyum senang. Sebaris pesan singkat ada di sana .

Duuuh…gila nih anak ! Pikir Amelia panik. Apa maksudnya sih ? Tapi tunggu dulu. Aku nggak boleh ge-er, gede rasa. Barangkali saja dia hanya bercanda. Anak muda sekarang kan suka begitu. Walau bagaimana aku masih lebih senior dari pada dia, Amelia mengingatkan dirinya.

Amelia memencet tombol kirim. < style="" lang="SV">Sudah mendarat dengan selamat. Nanti deh diceritakan. Tapi aku belum sempat kirim email >.

Bip. Baskoro tersenyum. Ia membalas cepat. <>

Amelia terhenyak. Menekan tombol kirim lagi. <>

Selamat istirahat, ya >.

*

Toko Buku Aksara, Kemang. Jam 16.00. Matahari setengah condong ke Barat.

“Kok kamu memilih tempat ketemuan di sini sih ?” Tanya Baskoro penasaran. “Aku sampai keriting mencarinya dari tadi.”

“Aku ada keperluan, mencari buku untuk referensi laporan. Lagi pula, kalau kamu ingkar janji aku masih bisa luntang lantung sendirian.” Senyum Amelia mengembang. Wajahnya yang selalu ceria tampak segar di sore hari itu. Apalagi dengan kemeja kerja yang rapi ia tampak elegan dan professional. Diam-diam Baskoro mengaguminya.

“Memangnya aku bertampang ingkar janji ?” kata Baskoro sambil menjejeri langkah Amelia, yang sedang sibuk mencari-cari buku di rak yang berjajar rapi.

“Tampang sih tidak mewakili. Aku hanya jaga-jaga saja. Eh, tumben kamu bisa ngabur dari kantor jam segini ? Alasan ketemu klien ?” Amelia tersenyum menggoda.

“Tau aja. Kan kamu memang klienku…hehehe…Makanya harus dilayani sebaik-baiknya. Ngomong-ngomong mau duduk di mana niih ? Aku sudah pegal berdiri dari tadi.”

“Sabar sebentar dong. Aku bayar bukunya dulu, setelah itu kita cari tempat duduk yang enak di luar sana. Kamu tahu kan, daerah ini punya tempat makan yang bermacam-macam. Mau yang pakai musik ?”

“Mhm…terserah kamu sih. Tapi kalau ada musiknya, kapan kita ngobrolnya ?”

“Hehehe…iya juga. Kalau begitu kita cari tempat yang tenang saja, ya ? Kamu suka kopi atau teh saja ?”

“Apa saja oke, asal sama kamu !” Baskoro memberanikan diri.

“Duuh..gombal, sore-sore begini. Kalau begitu, kita ke seberang sana saja ya ?”

Sambil berpegangan tangan, mereka menyeberangi jalan. Mengarungi arus lalu lalang kendaraan yang nyaris tidak mengurangi kecepatannya. Tanpa disadarinya, Amelia merapatkan tubuhnya kepada Baskoro. Entah mengapa , ia merasa nyaman berada di dekat laki-laki itu. Dan dengan langkahnya yang lincah ia mengikuti langkah Baskoro yang mantap.

*

Amelia menatap layar komputernya. Kosong. Sudah dua hari ini ia tidak sempat mengirim email. Di layar hanya ada satu pesan baru dari Baskoro. Tanggal kemarin. Itu pun hanya pesan singkat, tentang aktivitasnya di kantor yang semakin padat. Amelia menarik nafas panjang.

Apa yang aku harapkan dari dia ? pikirnya sedih, dengan mata menerawang. Beberapa bulan belakangan ini ia merenungi lagi perjalanan hidupnya. Jujur ia mengakui, bahwa sejak perkenalannya dengan Baskoro, banyak hal-hal positif yang dirasakannya. Di antaranya , ia tidak mudah panik lagi seperti sebelumnya. Dan ia pun lebih mampu mengontrol emosinya . Ia memang banyak berbincang dengan pemuda itu. Membahas berbagai masalah, mulai dari soal pekerjaan mereka di bidang konsultan dan sedikit menyinggung urusan pribadi juga. Ternyata di balik usianya yang relatif lebih muda, ia sarat dengan pengalaman, termasuk pengalaman karena gagal berumahtangga beberapa waktu yang lalu.

Amelia termenung. Selama ini ia sangat tertutup mengenai masalah pribadinya. Tapi entah mengapa, dengan Baskoro ia bisa terbuka dan berbicara apa adanya. Seandainya saja...ia bertemu pemuda itu di masa-masa sebelumnya. Amelia menghela nafas. Aahhh...tidak perlu seandainya. Baskoro memang datang tepat pada waktunya. Pada waktu ia mengalami krisis dalam rumahtangga. Pada saat ia membutuhkan seseorang untuk berbagi. Pada saat ia membutuhkan seseorang yang dapat memberikan solusi.

Bip. Ponselnya bergetar. Dari Baskoro.

Amelia tersenyum. Ia semakin bisa membaca suasana hatiku, bisiknya dengan perasaan tidak menentu.

Ia menekan tombol ’kirim’.

Bip. . Amelia geli. Ini tiruan dari iklan . Baskoro memang selalu bisa membuat suasana hatinya menjadi hidup lagi.

Ia menekan tombol kirim lagi.

Bip. .

Seketika Amelia merasa semangatnya bangkit. Lalu hatinya berdebar-debar. Nanti malam ia ada janji makan malam dengan relasi perusahaannya . Ia harus memilih.

Oke deh...aku siap di tempatmu, sekitar jam 4 sore>.

Sepanjang siang itu Amelia gelisah. Ia merasa seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Apa-apaan sih aku ini ? Pikirnya panik. Sebentar-sebentar ia melirik ke arlojinya. Dan seperti tidak percaya, menatap ke jam dinding yang dirasanya tidak pernah bergeser jarum petunjuknya.

*

Jam enam sore. Di kantor Amelia.

Tadi mereka sudah minum kopi sebentar di kafe yang ada di gedung sebelah kantornya. Itu adalah ritual mereka hampir setiap sore, selepas rutinitas pekerjaan yang mengikat. Ini entah yang keberapa kali mereka duduk bersama. Berbincang berbagai hal. Berbagi berbagai masalah. Kadang tertawa. Kadang tersenyum geli. Kadang hanya diam sambil mendengarkan musik mengalun pelan.

Tapi sore ini berbeda dengan sore lainnya. Mereka tak banyak berbincang. Hanya saling menatap, dan sesekali Baskoro meremas tangannya. Kopi yang diminum juga seperti ampas. Terlalu pahit untuk ditelan. Entahlah...

Amelia sudah mengatakan, mungkin mulai besok ia tidak akan mengirim email lagi. Ia ingin menenangkan diri dulu. Bukan apa-apa...ia sendiri sangat menikmati interaksi itu. Ia menikmati kencan mereka di dunia maya. Ia juga menikmati setiap pertemuan di sore hari yang mereka lalui bersama. Tapi ia tahu, hal itu akan membuatnya larut dan terhanyut. Dan mungkin saja ia tidak akan dapat menahan diri lagi. Selalu ada kemungkinan untuk salah melangkah. Resikonya terlalu berat . Untuk mereka berdua.

Baskoro memahaminya. Ia pun menyadari keterbatasan yang mereka miliki. Seandainya saja mereka sama-sama masih bebas seperti burung terbang di langit. Seandainya saja tidak ada koridor waktu yang membatasi. Seandainya saja mereka tidak cepat larut dalam perasaan yang teraduk-aduk seperti ini.

”Tapi aku kan masih boleh mengirim sms atau email sekali-sekali ?” bisiknya pelan . Amelia mengangguk lemah. Jangankan sms atau email. Kehadiranmu pun selalu aku nantikan, jeritnya. Tapi hanya dalam hati. Ia lalu memalingkan wajah, menatap kepergian Baskoro dengan hati seperti diremas-remas

Pelan-pelan Baskoro melangkah menuju ke mobilnya . Ia masih diam beberapa saat di lapangan parkir. Menatap bayangan Amelia, yang masih tertegun di pintu gedung kantornya.

Seandainya saja....! Baskoro berbisik lagi. Rasanya terlalu sakit untuk kehilangan sesuatu yang baru saja bersemi di sudut hatinya.

Dan bisikan itu melayang bersama angin sore.

*****

Jakarta, 10 Oktober 2006

Ietje

Hidup ini sebuah perjalanan

Kamis, 27 Desember 2007

Hari ini ... menjelang akhir tahun, biasanya aku suka merenung sendiri. Dan itu udah aku mulai tadi pagi. Setelah perjalanan singkat naik KRL AC Bintaro-Sudirman bareng sama Bang Rizali, akhirnya kami berpisah di depan stasiun Dukuh Atas. Dia naik Metromini. Aku jalan kaki. Menikmati pagi yang cerah tapi nggak panas.

Aku jalan kaki sendirian, sambil melamun ke sana ke mari. Melamun teman yang 'jauh'...dan melamun yang 'dekat'. Asyiiiik juga...

Lalu kepikiran, kenapa perjalanan itu nggak aku tulis dalam satu Blog tersendiri. Aku bisa lebih bebas berekspresi, bisa dalam bentuk cerpen, bisa juga dalam bentuk puisi - kalau aku lagi kehabisan kata-kata.

Dan tadi di kantor, aku sempat buka-buka file lama. Ada beberapa cerpen yang belum dipublikasi. Aku pikir, karena itu adalah bagian dari perjalanan hidupku, maka akan aku posting di ruang ini. Barangkali ini sisi lain lagi dari diriku. Semua catatanku di masa lalu, yang bahasanya jadul ataupun yang gaul seperti bahasa masa kini bisa mendapat tempat di sini tanpa aku harus merasa sungkan atau terbatas pada koridor birokrasi.

Okelah...nanti setelah makan siang, aku akan posting cerpenku ya. Ini adalah gabungan dari pengalamanku dan pengalaman sahabatku. Dan aku pikir, cukup menarik juga sebagai kontrol emosiku...he he he...

Salam dari pojok kisah,

Ietje